A.
PERKEMBANGAN
PELAYANAN KEBIDANAN INTERNASIONAL
1. AMERIKA
Dalam bukunya Theory For Midwifery Practice,
Rosamund Bryar memaparkan tentang perkembangan pelayanan kebidanan yang ada di
Amerika. Bryar menyatakan bahwa
v Tahun
1765 pendidikan formal untuk bidan mulai dibuka. Akhir abad ke-18 banyak
kalangan medis berpendapat secara emosi dan intelektual wanita tidak dapat
belajar dan menerapkan metode obstetric.Pendapat ini digunakan untuk
menjatuhkan profesi bidan, sehingga bidan tidak mempunyai pendukung, uang,
tidak teroganisir dan tidak dianggap professional.
v Tahun
1770-1820 Para wanita golongan atas di kota-kota besar, melahirkan ditolong
olah “Bidan Pria” / dokter.Bidan hanya menangani persalinan wanita yang tidak
mampu membayar dokter. Pada masa itu juga
terjadi perubahan persepsi dimana kelahiran merupakan masalah medis yang
harus ditangani oleh dokter.
v Sampai
dengan pada awal abad 20 para bidan berperan seperti dokter berpengalaman tanpa
pendidikan spesifik, standar-standar, atau peraturan-peraturan yang mengatur
dalam memebriksn pelayanan kebidanan.
v Tahun
1915 Dokter Joseph de Lee menyatakan : kelahiran bayi adalah patologis dan
bidan tidak mempunyai peran didalamnya. Pada saat ini mulai diberlakukannya
protap pertolongan persalinan yaitu :
1. memberikan
sedative pada awal inpartu
2. membiarkan
servik berdilatasi
3. memberikan
ether pada kala II
4. melakukan
episiotomi
5. melahirkan
bayi dengan forcep
6. ekstraksi
placenta
7. memberikan
uterotonika
8. menjahit
episiotomi
v Tahun
1900-1930 akibat protap yang diberlakukan tersebut, AKI mengalami penurunan
menjadi 600-700 kematian per 100.000 kelahiran hidup.30-50% wanita melahirkan
di rumah sakit.
v Dokter
Grantly Dicka meluncurkan buku tentang persalinan alami sehingga spesialis
obstetric berusaha meningkatkan peran tenaga diluar medis termasuk bidan.
v Tahun
1955 Dibuka sekolah American College of Nurse-Midwives (ACNM)
v Tahun
1971 Seorang bidan di Tenesse mulai menolong persalinan secara mandiri di
institusi kesehatan.
v Tahun
1979 :
Badan pengawasan obat Amerika mengatakan bahwa ibu
bersalin yang menerima anaesthesi dalam dosis tinggi telah melahirkan anak-anak
yang mengalami kemunduran perkembangan psikomotor.Pernyataan ini membuat :
1. Masyarakat
mulai tertarik dengan proses persalinan alamiah
2. Persalinan
dilakukan di rumah
3. Memacu
peran bidan
v Tahun
1980-an :
ACNM membuat alternative dalam pelayanan
persalinan dan mengubah pernyataan negative tentang homebirth.Dibuat legalisasi
tentang praktek professional bidan, sehingga membuat bidan menjadi profesi
dengan lahan praktek yang spesifik dan membutuhkan organisasi yang mengatur
organisasi tersebut.
v Tahun
1982 :
MANA (Midwive Alliance of North America)
dibetuk untuk meningkatkan komunikasi antar bidan serta membuat peraturan
sebagai dasar kompetensi untuk melindungi bidan.Negara Arizona, bidan mempunyai
tugas khusus yaitu melahirkan bayi. Untuk perawatan selanjutnya merawat bayi dan memberikan injeksi bukan
lagi tugas bidan, hanya dilakukan jika diperlukan.
v Tahun
1980 Bidan menangani 1,1% persalinan dan tahun 1994 : 5,5%
v Tahun
1988Angka SC menurun 25% dan menjadi 21% tahun 1995
v Tahun
1989Penggunaan forcep menurun 5,5% dan menjadi 3,8% tahun 1994
ü Hambatan-hambatan
yang dirasakan oleh Bidan Amerika saat ini antara lain :
1. Ada
banyak undang-undang baru, direct entry midwive dianggap ilegal
2. Lisensi
praktek berbeda antar Negara, tidak ada standar praktek nasional sehingga tidak
ada definisi yang jelas tentang bidan yang telah terdidik dan memiliki standar
kompetensi yang sama
3. Sedikit
data tentang direct entry midwive dan persalinan oleh bidan
4. Kritik
tajam dari profesi medis kepada direct entry midwive
ü Pendidikan
kebidanan biasanya berbentuk praktek lapangan
ü Bidan
adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan selama 4 tahun dan praktek
lapangan selama 2 tahun tapi biaya sangat mahal.
ü Kebidanan
memiliki sebuah organisasi untuk membentuk standart, menyediakan sertifikat dan
membuat ijin praktek.
ü Saat
ini, America merupakan Negara yang menyediakan perawatan maternitas termahal di
dunia, tetapi paling buruk dalam hal perawatan antenatal dibandingkan dengan
Negara insdustri lainnya.
2. AUSTRALIA
Ø Abad
19 :
Florence Nightingale adalah pelopor
kebidanan dan keperawatan yang dimulai dengan tradisi dan latihan – latihan
Ø Tahun
1824 :
-
Kebidanan masih belum dikenal sebagai
bagian pendidikan medis di Inggris dan Australia
-
Kebidanan masih didominasi oleh dokter
Ø Tahun
1862 :
-
Pendidikan kebidanan pertama kali
dimulai
-
Lulusannya dibekali dengan pengetahuan
teori dan praktek.
Ø Tahun
1893 Pendidikan Diploma kebidanan dimulai
Ø Sejak
tahun 1899 :
-
Hanya bidan dan perawat terlatih yang
boleh bekerja di RS
-
Sebagian besar wanita melahirkan tidak
dirawat selayaknya oleh masyarakat. Ketidak seimbangan seksual dan moral
membuat prostitusi berkembang cepat. Menyebabkan banyak wanita hamil diluar
nikah dan jarang memperoleh pelayanan dari bidan dan dokter karena pengaruh
sosial mereka.
Ø Tahun
1913 30% persalinan ditolong oleh bidan
Ø Tahun
1900-1940 :
-
Dokter banyak menolong persalinan namun
tidak ada penurunan berarti pada AKI dan bidanlah yang disalahkan.
-
Kenyataannya wanita di kota besar yang
melahirkan dengan dokter, mempunyai resiko infeksi yang lebih besar daripada
wanita miskin yang ditangani oleh bidan.
-
Kebidanan di Australia telah mengalami
perkembangan yang pesat sejak 10 tahun terakhir.
-
Dasar pendidikan berubah dari
tradisional hopital based programe menjadi tertiary course of studies
menyesuaikan kebutuhan pelayanan dari masyarakat
-
Tapi tidak semua institusi pendidikan
melaksanakan perubahan tersebut dan lebih berorientasi pada RS. Kurikulum
disusun berdasarkan pengalaman dan keahlian di lapangan kebidanan.
-
Kekurangan dari pendidikan kebidanan di
Australia hampir sama dengan di Indonesia karena belum ada persamaan persepsi
mengenai implementasi kurikulum sehingga lulusan bidan mempunyai kompetensi
klinik yang berbeda. Hal ini ditambah dengan kurangnya kebijakan formal dan
tidak adanya standar nasional.
Ø Tahun
1994 :
-
National Review of Nurse education
mengatakan bahwa tidak ada direct entry untuk pendidikan bidan di Australia.
-
Mahasiswa kebidanan harus menjadi
perawat dulu sebelum mengikuti pendidikan bidan, karena kebidanan termasuk sub
spesialisasi keperawatan (maternal and child health) yang didalamnya termasuk :
1. Pendidikan
tentang keluarga berencana
2. Kesehatan
wanita
3. Perawatan
ginekologi
4. Perawatan
anak
5. Kesehatan
anak dan keluarga
6. Kesehatan
neonatus dan remaja
-
Adanya peraturan ini, mempersempit peran
dan ruang kerja bidan.
-
Literatur kebidanan masih kurang
-
Kurikulum hanya sesuai untuk mahasiswa
pemula atau menengah dan kadang-kadang mahasiswa yang sudah terlatih di
keperawatan kebidanan diberikan porsi yang sama dengan pemula atau sebaliknya.
-
Beberapa tahun setelah Australia
mengadakan pelatiha kebidanan, datang para pendidik yang membuka universitas
yang memiliki cara tersendiri untuk menghasilkan tenaga yang berkualitas dan
pemerintah mendukung bidan serta memperluas peran bidan
2.
SELANDIA BARU
·
Tahun 1904 :
Telah ada peraturan tentang cara kerja bidan, tapi
100 tahun yll lingkup praktik bidan telah berubah
·
Awal tahun 1900 :
-
Secara perlahan bidan menjadi asisten
dokter dan bekerja di RS, tetapi bidan tidak lagi memandang bahwa persalinan
adalah peristiwa yang normal dan kehilangan peran dalam mendampingi persalinan
-
Bidan menjadi berpengalaman dalam
memberikan intervensi asuhan maternitas yang penuh dengan medis. Hal ini
berlangsung sampai tahun 1920 dengan maksud untuk mengurangi AKI dan AKB
·
Tahun 1980 :
-
Cara tersebut digunakan oleh Negara lain
Australia, Inggris dan Amerika, tetapi strategi tersebut tidak mencapai kesuksesan.
-
Di Selandia Baru, para wanita menentang
model tersebut dan menginginkan model tradisional yaitu seseorang yang
berpengalaman mulai dari kehamilan sampai 6 minggu persalinan tanpa intervensi
medis dan memberikan dukungan bahwa persalinan adalah peristiwa yang normal.
·
Tahun 1980-an :
-
Terbentuk legalisasi tentang
profesionalisme praktek bidan
-
Sebagian besar Bidan Selandia Baru mulai
praktek mandiri dengan tanggung jawab penuh kepada klien dan asuhan dalam
lingkup normal.
·
Saat ini :
-
86% wanita mendapat pelayanan bidan
selama kehamilan sampai nifas dan perawatan selanjutnya dilakukan di rumah
pasien.
-
63% wanita memilih bidan sebagai
satu-satunya perawat maternitas.
-
Model kebidanan yang digunakan adalah
Partnership antara bidan dan wanita.
-
Dasar model partnership adalah
komunikasi dan negosiasi.
3.
BELANDA
Kebidanan merupakan aplikasi/terapan dari ilmu
medis.Bidan adalah tenaga profesional yang mengatur dan monitoring proses
fisiologis, berbeda dengan profesi kesehatan lain yang berfokus pada patologi.
Bidan memberi kontribusi dalam proses medis kedokteran (Crebas 1991: 25)
∞
Tahun 1779 : Pendidikan kebidanan
pertama di Maasticht
∞
Tahun 1818 : Pemerintah mengeluarkan
panduan untuk legislasi bidan
∞
Tahun 1861 : Pendidikan kebidanan kedua
di Amsterdam. Pada abad 18 masyarakat mengenal bidan sebagai praktisi mandiri.
Tugas dan tanggung jawab bidan sudah teridentifikasi dengan jelas dan didukung
oleh undang-undang dari pemerintah.
∞
Tahun 1865 : Pemerintah memberikan
kewenangan kepada bidan sebagai praktisi medis untuk memberikan pendidikan
kesehatan dan mendampingi ibu selama proses kelahiran normal .
∞
Tahun 1878 : keputusan untuk memberikan gelar kepada
yang telah lulus bidan dan diberi kewenangan izin praktek bila sudah melakukan
ujian dan dianggap lulus.
∞
Tahun 1941 : Sistem pembayaran pelayanan
kebidanan dengan asuransi medis (masih ada sampai dengan sekarang).
∞
Bidan memberikan pelayanan kepada wanita
dengan kehamilan dan persalinan yang fisiologis dan berada dibawah pengawasan
ahli obstetri.
∞
Tahun 1991 : Peninjauan kembali
kurikulum oleh suatu komite bekerjasama dengan Departemen Kesejahteraan,
Kesehatan dan Kebudayaan di Netherland
∞
Melakukan revisi kurikulum kebidanan
dengan mengidentifikasi kebutuhan kebidanan yang harus berdasarkan :
1. Perubahan
area obstetrik
2. Peningkatan
penggunaan teknologi dalam persalinan
dan kelahiran
3. Identifikasi
kebutuhan untuk menyediakan pelatihan USG
4. Pemikiran
yang berorientasi pada pendidikan terutama yang
berkenaan dengan penilaian mahasiswa
5. Kebutuhan
bidan dalam mengembangkan kebutuhan riset
(Commitee for the revision of the
curiculum of midwifery school in nehterlands 1991)
Pendidikan Kebidanan di Belanda
Profil bidan di
Netherlands terfokus pada 3 komponen yaitu
ANC, INC dan PNC. Tahun 1991 ada
penambahan yang termasuk pada
kategorinya antara lain :
1. Prosedur
obstetric
2. Pencegahan
3. Management
pada kehamilan / keterampilan berkomunikasi
4. Melaksanakan
praktek
5. Meningkatkan
dan memelihara keterampilan professional
Mengacu pada Commitee for the revision
of the curiculum of midwifery school in Netherlands 1991 menyatakan bahwa
keahlian seorang bidan memiliki 5 komponen :
1. Keahlian
formal yang didapat selama pelatihan dari salah satu institusi pendidikan bidan
2. Memiliki
sikap yang tepat untuk seorang bidan yang profesional
3. Keahlian
yang profesional yang diperoleh harus selalu dipelihara secara teratur dengan
mengikuti pelatihan.
4. Mampu
dalam memberikan pendidikan kesehatan
5. Ahli
dalam ultrasonic scanning
6. Tahun
1992 bidan komunitas mensupervisi dari 45%
persalinan di Netherland, lebih dari setengahnya persalinan terjadi di
rumah (Netherland Biro Pusat Statistik, 1994).
7. Sekolah
kebidanan adalah universitas mandiri meskipun pelatihan/training di
pertimbangkan dapat menyeimbangkan pendidikan pada tingkat pendidikan vokasi
yang lebih tinggi.
8. Tahun
1993 kurikulum di kembangkan menjadi 4 tahun dengan maksud untuk memenuhi
kebutuhan bidan dalam mendapatkan pengalaman dan pemahaman mengenai riset dan
untuk menyeimbangkan kualitas program yang dirasakan bahwa standart akademik
dapat dicapai dengan memungkinkan setiap lulusan untuk melanjutkan studi
doktor.
9. Lama
pendidikan bidan 1.680 jam : kontak program dan pembelajaran di rumah.
Penempatannya di klinik, ruang bersalin, ruang demo dan unit ginekologi
10. Target
>40 persalinan, setiap tahun mahasiswa harus mencapai objek pembelajaran
yang spesifik. Program pembelajaran terselenggara melalui modul dengan tema
utama menggabungkan teori dan keterampilan, pada tahun ketiga mereka diharuskan
meningkatkan kemampuan keterampilannya.
PELAYANAN KEBIDANAN DI BELANDA
·
Pelayanan kebidanan di Belanda memiliki
keunikan tersendiri, karena merupakan gabungan dari budaya dan sistem. Keunikan
ini membuat bidan mampu melakukan pendekatan kepada ibu dengan tidak
meninggalkan profesionalismenya.
·
Awal tahun 1970-an, angka persalinan di
rumah berkisar 70%
·
peraturan bahwa medis dan bidan harus
mampu mengobservasi 15 persalinan selama pelatihan.
·
Tahun 1980-an merupakan masa kebangkitan
bidan di Belanda. Bidan menjadi sangat militan, karena harus mempertahankan
persalinan di rumah. Bidan-bidan banyak menghasilkan buku-buku dan video
pengajaran yang dipublikasikan
·
Tahun 1990-an, merupakan masa pencerahan
bagi profesi bidan dan membawa cara berfikir yang baru. Penelitian à kelahiran
di RS sangat rendah kualitasnya à angka kematian perinatal yang sangat tinggi à
mengalami penghentian à persalinan di rumah meningkat kembali, tetapi
persalinan yang ditolong oleh bidan mengalami penurunan à kompetisi dengan
dokter umum (17-19%), sedangkan persalinan yang ditolong bidan pada awal
1990-an hanya sekitar 6%.
·
Pemerintah lebih mendukung pelayanan
yang diberikan oleh bidan dibandingkan pelayanan yang diberikan dokter umum. pendapatan
bidan yang lebih tinggi dibandingkan dokter umum
·
Dampak keputusan pemerintah ini
menyebabkan peningkatan pertolongan persalinan di rumah oleh bidan.
B. PERKEMBANGAN
PELAYANAN KEBIDANAN NASIONAL
Perkembangan pendidikan dan pelayanan kebidanan di
Indonesia tidak terlepas dari masa penjajahan Belanda, era kemerdekaan,
politik/ kebijakan pemerintah dalam pelayanan dan pendidikan tenaga kesehatan,
kebutuhan mesyarakat serta kemajuan ilmu teknologi
·
Tahun 1807 :
Diadakan
pelatihan dukun dalam pertolongan persalinan, tapi tidak berlangsung lama
karena tidak ada pelatih bidan
·
Tahun 1849 :
Dibuka
pendidikan dokter Jawa di Batavia dan pendidikan bidan bagi wanita pribumi oleh
dr W Bosch
·
Tahun 1851Lulusan bidan bekerja di RS
dan di masyarakat
·
Tahun 1952
Diadakan
pelatihan bidan secara formal untuk meningkatkan kualitas pertolongan
persalinan dan kursus untuk dukun masih berlangsung hingga sekarang dan yang
memberikan kursus adalah bidan.
·
Tahun 1953 :
Diadakan
kursus tambahan bidan di Yogyakarta diiringi dengan didirikannya BKIA (Balai
Kesehatan Ibu dan Anak) dimana bidan sebagai penanggung jawab pelayanan keadaan
masyarakat yaitu ANC, PNC, pemeriksaan bayi, pertolongan persalinan di rumah
dan kunjungan rumah sebagai tindak lanjut pasca persalinan.
·
Tahun 1957 :
BKIA
berubah menjadi Puskesmas dengan pelayanan yang lebih terintegrasi, dimana
bidan berfungsi
1. memberikan
pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk KB
2. memberikan
pelayanan di luar gedung puskesmas yaitu di rumah keluarga dan di posyandu :
pemeriksaan kehamilan, pelayanan KB, imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan
·
Tahun 1990 :
Pelayanan kebidanan diberikan
secara merata sesuai dengan kebutuhan di masyarakat
·
Tahun 1992 :
Melalui Instruksi Presiden pada
sidang kabinet tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa.
·
Tahun 1994 :
-
Bertitik tolak dari Konferensi
Kependudukan Dunia di Kairo, menekankan pada reproduktif health dan memperluas
area garapan pelayanan bidan :
1. Safe
motherhood termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus
2. Familly
planning
3. PMS
termasuk infeksi saluran alat reproduksi
4. Kesehatan
reproduksi remaja
5. Kesehatan
reproduksi pada orang tua
-
Kewenangan bidan diatur melalui
Peraturan Menteri yang selalu berubah-ubah, dimulai dari :
1. Permenkes
no 5380/IX/1980 terbatas pada pertolongan persalinan secara mandiri
2. Permenkes
no 363/IX/1980 diubah menjadi no 623/1989 wewenang bidan dibagi dua yaitu umum
dan khusus.
3. Permenkes
no 572/VI/1996, mengatur tentang registrasi praktek bidan, dalam wewenang
mencakup
a. Pelayanan
kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak
b. Pelayanan
Keluarga Berencana
c. Pelayanan
kesehatan masyarakat.
4. Kepmenkes
no 900/ Menkes/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan.
5. Permenkes
NO.HK.02.02/MENKES/149/2010 tentang izin danpenyelenggara praktik bidan
6. Permenkes
RI No.1464/menkes/PER/X/2010 tentang izin danpenyelenggara praktik bidan
C.
PERKEMBANGAN
PENDIDIKAN KEBIDANAN
Ø Tahun
1851 :
Perkembangan
pendidikan bidan dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda yang dibuka oleh
dr. W Bosch tapi tidak berlangsung lama karena kurangnya peserta didik dan
adanya larangan bagi wanita untuk keluar rumah.
Ø Tahun
1902 :
Dibuka
kembali di RS Militer di Batavia
Ø Tahun
1904 :
Dibuka
pendidikan bidan bagi wanita Indo di Makasar dan lulusan tersebut harus
bersedia ditempatkan dimana saja dan harus mau menolong masyarakat yang tidak
mampu secara cuma-cuma.
Ø Tahun
1911/1912 :
Dimulai
pendidikan tenaga keperawatan di RSUP Semarang dan Batavia, yang diterima
lulusan HIS (SD 7 tahun), masa pendidikan 4 tahun dan awalnya diterima adalah
pria.
Ø Tahun
1914 :
Mulai
diterima peserta didik wanita dan dapat melanjutkan kependidikan kebidanan
selama 2 tahun.
Ø Tahun
1935-1938 :
-
Pemerintah Belanda mulai mendidik bidan
lulusan MULO (SLTP bagian B) dan bersamaan dibukanya sekolah bidan di kota-kota
besar yaitu Jakarta, RSB Budi Kemuliaan, RSB Palang Dua, RSB Mardi Waluyo di
Semarang
-
Mulai diberlakukan peraturan yang
membedakan lulusan bidan berdasarkan latar belakang pendidikan dan membedakan
gaji pokok dan tunjangan bagi bidan. Antara lain :
1. Dengan
latar belakang MULO dan pendidikan selama 3 tahun disebut bidan kelas I
2. Dari
lulusan perawat disebut bidan kelas II
Ø Tahun
1950-1953 :
-
Dibuka sekolah bidan lulusan SMP dengan
batas usia maksimal 17 tahun dan lama pendidikan 3 tahun
-
Dibuka juga sekolah penjenag Kesehatan I
(pembantu bidan) untuk meningkatkan kebutuhan tenaga bidan, tapi tahun 1945
pendidikan ini ditutup.
Ø Tahun
1953 :
Dibuka
Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta lamanya 7-12 minggu.
Ø Tahun
1954 :
Dibuka
pendidikan guru bidan bersama-sama dengan guru perawat dan perawat kesehatan
masyarakat di bandung. Awalnya berlangsung 1 tahun, kemudian menjadi 2 tahun
dan terakhir menjadi 3 tahun.
Ø Tahun
1960 :
KTB
dipindahkan ke Jakarta yang bertujuan memperkenalkan pada lulsan bidan mengenai
perkembangan program KIA dan pelayanan kesehatan masyarakat.Sebelum memulai
tugasnya, KTB ini ditutup.
Ø Tahun
1972 :
Pendidikan
guru bidan dan perawat dilebur menjadi sekolah guru perawat dari lulusan
sekolah perawat dan sekolah bidan.
Ø Tahun
1970 :
Dibuka
PPB dari lulusan SPR ditambah 2 tahun pendidikan disebut sekolah pendidikan
lanjutan jurusan kebidanan
Ø Tahun
1974 :
Depkes
melakukan penyederhanaan, sekolah bidan ditutup dan dibuka SPK.
Ø Tahun
1975-1984 :
Pendidikan
bidan ditutup dan IBI tetap ada dan hidup secara wajar
Ø Tahun
1981 :
Dibuka
pendidikan D I Kesehatan Ibu dana anak, berlangsung 1 tahun.
Ø Tahun
1985
Dibuka
lagi PPB dari SPK dan SPR, lama pendidikan 1 tahun dan lulusannya dikembalikan
ke institusi yang mengirim.
Ø Tahun
1989 :
Dibuka
secara nasional yang memperbolehkan lulusan SPK langsung masuk pendidikan bidan
(PPB A) lama pendidikan 1 tahun dan langsung di tempatkan kedaerah pedesaan
sebagai pegawai negeri sipil
Ø Tahun
1994 :
Status
bidan di desa menjadi PTT dengan kontrak 3 tahun yang dapat diperpanjang 2 x 3
tahun lagi.
IBI
bekerjasama dengan depkes dan ACNM dan RS swasta mengadakan training of trainer
kepada IBI sebanyak 8 orang untuk LSS dan menjadi pelatih LSS (Live Save
Skills) di PP IBI.
Ø Tahun
1993 :
Dibuka
PPB B dari lulusan Akper dengan lama pendidikan 1 tahun untuk mempersiapkan
tenaga pengajar bagi PPB A. Pendidikan ini hanya berlangsung 2 angkatan.
Juga
dibuka PPB C dari lulusan SMP di 11 propinsi dan diselesaikan dalam 6 semester.
Ø Tahun
1994-1995 :
Pemerintah
menyelenggarakan uji coba pendidikan Bidan Jarak Jauh (Distance Learning) di 3
propinsi yang diatur dalam SK Menkes no.1247/Menkes/SK/XII/1994.
Ø Tahun
1995-1998 :
IBI
bekerjasama dengan Mother Care melakukan pelatihan dan Peer Review bagi bidan
RS, bidan puskesmas dan desa di kalimantan selatan.
Ø Tahun
1996 :
Ø Tahun
2000
Tim
pelatih APN yang dikoordinasikan oleh Maternal Neonatal Health, tidak hanya
untuk pelatihan juga guru, dosen-dosen dari akademi Kebidanan.
Ø Tahun
2000 :
Dibuka
pendidikan D IV Kebidanan di UGM dan tahun 2002 di UNPAD, tahun 2005 di
Poltekkes Padang dan Poltekkes Bandung.
Ø 1996
DIII Kebidanan, dari D1 bidan selama 5
semester selama 2,5 th
Ø 1998
D III dari SMU selama 6 semester
Ø 1999 D III dari SPK selama 6 semester
Ø 2001
ada 65 institusi penyelenggara D III, Depkes, TNI, Pemda, Swasta.
Ø 2004
D III dari D1 Progsus selama 5 semester dlm 2 th: 96 sks.
Ø 2000
DIV Bidan Pendidik UGM, 2001 UNPAD, 2004 USU dan stikes Ngudi waluyo.
Ø 2006
S2 Kebidanan UNPAD.
Ø Program
S1 Bidan dari SMU
Ø 2011
S2 Sains Terapan Kesehatan Kebidanan