Kamis, 05 Januari 2017

Teori Dan Model Konseptual Asuhan Kebidanan


 
A.    Model Konseptual Asuhan Kebidanan
1.      Pengertian Model Konseptual Asuhan Kebidanan
Konseptual model asuhan kebidanan adalah suatu bentuk pedoman/acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan  dalam memberikan asuhan kebidanan yang dipengaruhi oleh filosofi yang dianut bidan (filosofi asuhan kebidanan) meliputi unsur-unsur yang terdapat dalam paradigma kesehatan (manusia-perilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan. 
2.      Model konseptual kebidanan adalah:
Gambaran abstrak suatu ide yang menjadi dasar suatu disiplin ilmu.Pada dasarnya sama dengan pengertian konsep kerangka kerja, sistem, dan skema. Menunjukkan pada ide global tentang individu, kelompok, situasi, dan kejadian yang menarik untuk suatu ilmu.Konseptual model biasanya berkembang dari wawasan intuitif, keilmuan dan seringkali disimpulkan dalam kerangka acuan disiplin ilmu yang bersangkutan (Fawcett, 1992) sehingga konseptual model memberikan gambaran abstrak atau ide yang mendasari suatu disiplin ilmu.
Model memberi kerangka untuk memahami dan mengembangkan praktik untuk membimbing tindakan dalam pendidikan untuk mengidentifikasi pertanyaan yang harus dijawab dalam penelitian. Konsep model ditunjukkan dengan banyak cara yaitu mental model, fisikal model, dan simbolik (Lancaster and Lavcaster, 1992)
3.      Kegunaan Model Konseptual Asuhan Kebidanan
a.       Kegunaan Model Konseptual adalah:
1)      Untuk menggambarkan beberapa aspek (kongkret maupun abstrak) dengan mengartikan persamaannya seperti struktur gambar, diagram, dan rumus. Model tidak seperti teori, tidak memfokuskan pada hubungan antara dua fenomena tapi lebih mengarah pada struktur dan fungsi. Sebuah model pada dasarnya analogi atau gambar simbolik sebuah ide (Wilson, 1985)
2)      Merupakan gagasan mental sebagai bagian teori yang memberikan bantuan ilmu-ilmu sosial dalam mengonsep dan menyamakan aspek-aspek dalam proses sosial (Gaith and Smith, 1976)
3)      Menggambarkan sebuah kenyataan, gambaran abstrak sehingga banyak digunakan oleh disiplin ilmu lain sebagai parameter garis besar praktik (Bemer, 1984)
b.      Kegunaan Model Asuhan Kebidanan:
1)      Menyatukan data secara lengkap
a)      Tindakan sebagai bantuan dalam komunikasi antara bidan dan pimpinan.
b)      Dalam pendidikan untuk mengorganisasikan program belajar.
c)      Untuk komunikasi bidan dengan klien.
2)      Menjelaskan siapa itu bidan, apa yang dikerjakan, keinginan, dan kebutuhan untuk:
a)      Mengembangkan profesi.
b)      Mendidik siswi bidan.
c)      Komunikasi dengan klien dan pimpinan.
4.      Macam-macam Model Konseptual Asuhan Kebidanan
a.       Model dalam Mengkaji Kebutuhan dalam Praktik Kebidanan.Model ini memiliki empat unit yang penting, yaitu:
1.      Ibu dalam keluarga.
2.      Konsep kebutuhan.
3.      Partnership.
4.      Faktor kedokteran dan keterbukaan.
b.      Model Medikal
Model Medikal merupakan salah satu model yang dikembangkan untuk membantu manusia dalam memahami proses sehat sakit dalam arti keasehatan. Tujuannya adalah sebagai kerangka kerja untuk pemahaman dan tindakan sehingga dipertanyakan dalam model ini adalah “Dapatkah dengan mudah dipahami dan dapatkah dipakai dalam praktik?”.
Model medikal lebih banyak digunakan dalam bidang kedokteran dan lebih berfokus pada proses penyakit dan mengobati ketidaksempurnaan.Yang tercakup dalam model medikal adalah:
1.         Berorientasi pada penyakit.
2.         Meganggap bahwa akal atau pikiran dan badan terpisah.
3.         Manusia menguasai alam.
4.         Yang tidak biasa menjadi menarik.
5.         Informasi yang terbatas pada klien.
6.         Pasien berperan pasif.
7.         Dokter yang menentukan.
8.         Tingginya teknologi menaikkan prestise.
9.         Prioritas kesehatan individu dari pada kesehatan komunitas.
10.     Penyakit dan kesehatan adalah domain dokter.
11.     Pemahaman manusia berdasarkan mekanik dan bioengineering.
Model medikal ini kurang cocok untuk praktik kebidanan karena terlalu berorientasi pada penyakit dan tidak memberi kesempatan klien untuk menentukan nasibnya sendiri.Walaupun demikian, kenyataannya masih banyak yang terpengaruh pada model medikal ini.
c.       Model Sehat untuk Semua (Health For All-HFA)
Model ini dicetuskan oleh WHO dalam Deklarasi Alma Atta tahun 1978. Fokus pelayanan ditujukan kepada wanita, keluarga, dan masyarakat serta sebagai sarana komunikasi dari bidan-bidan negara lain. Tema HFA menurut Euis dan Simmer (1992):
1.      Mengurangi ketidaksamaan kesehatan.
2.      Perbaikan kesehatan melalui usaha promotif dan preventif.
3.      Partisipasi masyarakat.
4.      Kerja sama yang baik antara pemerintah dengan sektor lain yang terkait.
5.      Primary Health Care (PHC) adalah dasar pelayanan utama dari sistem pelayanankesehatan. PHC adalah pelayanan kesehatan pokok yang didasarkan pada praktik, ilmu pengetahuan yang logis dan metode sosial yang tepat serta teknologi universal yang dapatdiperoleh individu dan keluarga dalam komunitas melalui partisipasi dan merupakan nilai dalam masyarakat dan negara yang mampu menjaga setiap langkah perkembangan berdasarkan kepercayaan dan ketentuannya. Dari model  HFA dan definisi PHC terdapat lima konsep (WHO,1998):
a)      Hak penentuan kesehatan oleh cakupan populasi universal dengan penyedia asuhan berdasarkan kebutuhan.
b)      Pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dimana pelayanan dapat memenuhi segala macam tipe-tipe kebutuhan yang berbeda harus disediakan dalam satu kesatuan (semua pelayanan dalam satu tempat).
c)      Pelayanan harus efektif, dapat diterimaoleh norma, dapat menghasilkan, dan diatur. Yaitu pelayanan harus dapat memenuhi kebutuhan yang dapat diterima oleh masyarakat dan pelayanan harus dimonitor dan diatur secara efektif.
d)     Komunitas harus terlibat dalam pengembangan, penentuan dan pemonitoran pelayanan. Yaitu penentuan asuhan kesehatan merupakan tanggung jawab semua komunitas dan kesehatan dipandang sebagai faktor yang berperan untuk pengembangan seluruh lapisan masyarakat.
e)      Kolaborasi antar sekolah untuk kesehatan itu sendiri dan pelayanan kesehatan tidak dapat bergantung pada pelayanan kesehatan saja tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perumahan, polusi lingkungan, persediaan makanan, dan metode publikasi.
Delapan area untuk mencapai kesehatan bagi semua melalui PHC, delapan area ini adalah:
1.      Pendidikan tentang masalah kesehatan umum dan metode pencegahan dan pengontrolannya.
2.      kesehatan tentang persediaan makanan dan nutrisi yang layak.
3.      Persediaan air yang sehat dan sanitasi dasar yang adekuat.
4.      Promosi Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana.
5.      Imunisasi.
6.      Pencegahan dan pengawasan penyakit endemik.
7.      Pengontrolan yang tepat terhadap kecelakaan dan penyakit umum.
8.      Persediaan obat-obat essensial (Morley at all, 1989).

d.      Model Sistem Maternitas di Komunitas yang Ideal
University of Southeer Queensland
1.      Model kurikulum konseptual partnership dalam praktik kebidanan berdasarkan pada model pelayanan kesehatan dasar (Guilliland and Pairman, 1995).
2.      Partnership kebidanan adalah sebuah filosofi prospektif dan suatu model kepedulian (model of care) sebagai model filosofi prospektif berpendapat bahwa wanita dan bidan dapat berbagi pengalaman dalam proses persalinan.
3.      Persalinan merupakan proses yang sangat normal.
4.      Sebuah hubungan partnership menggambarkan dua orang yang bekerjasama dan saling menguntungkan.
5.      Bidan bekerja keras bahwa bidan tidak memaksakan suatu tindakan melainkan membantu wanita untuk mengambil keputusan sendiri.
6.      Konsep “wanita” dalam asuhan kebidanan meliputi mitra perempuan tersebut, keluarga, kelompok, dan budaya.
7.      Konsep bidan dalam asuhan kebidanan meliputi bidan itu sendiri, mitranya atau keluarga, budaya atau sub kultur bidan tersebut, dan wewenang profesional bidan.
8.      Dengan membentuk hubungan antara bidan dan wanita akan membawa mereka sendiri sebagai manusia ke dalam suatu hubungan partnership yang mana akan mereka gunakan dalam teraupetik. Bidan harus mempunyai self knowing, self nursing, dan merupakan jaringan pribadi dan kolektif yang mendukung.
9.      Sebagai model of care the midwifery partnership didasarkan pada prinsip midwifery care berikut ini:
a.       Mengakui dan mendukung adanya keterkaitan antara badan, pikiran, jiwa, fisik, dan lingkungan kultur sosial (holism).
b.      Berasumsi bahwa mayoritas kasus wanita yang bersalin dapat ditolong tanpa adanya intervensi.
c.       Mendukung dan meningkatkan proses persalinan alami tersebut.
d.      Bidan menggunakan suatu pendekatan pemecahan masalah dengan seni dan ilmu pengetahuan.
e.       Relationship-based dan kesinambungan dalam motherhood.
f.       Woman centered bertukar pikiran antara wanita.
g.      Kekuasaan wanita yaitu berdasarkan tanggung jawab bersama untuk pengambilan suatu keputusan, tetapi wanita mempunyai kontrol atas keputusan terakhir mengenai keadaan diri dan bayinya.
h.      Dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup praktik individu dengan persetujuan wanita bidan merujuk fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas.
Hubunganantara wanita, bidan, dan dokter harus didasari oleh rasa saling menghormati dan saling percaya, bidan boleh mempertanyakan masalah medis atau perilndungan hukum untuk wanita untuk alasan apapun, jika wanita tersebut tidak mampu berbicara atas namanya sendiri.
Persepsi mahasiswa kebidanan ditentukan oleh bidan di bagian pelayanan untuk  mengantisipasi mahasiswa dalam menghadapi kasus yang ditemukan di dalam tim, tetapi praktik mahasiswa akan dibatasi oleh bidan dan akan mengajarkan beberapa pelayanan khusus kebidanan yang akan meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa, peran perseptor akan semakin berkurang dalam praktik dan hanya akan menjadi penasihat dan pendukung.

e.       Model Asuhan Home Based
     Dasar asuhan kebidanan berdasarkan home based merupakan unsure therapeutic yang terdiri dari sebuah kesadaran dan menjaga hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan dibentuk untuk memfasilitasi asuhan yang berkualitas. Tanggung jawab dan kejujuran merupakan hal yang harus dibangun dalam hubungan antara bidan dan klien. Proses persalinan di rumah (Home Birth) sejak lama telah menggunakan konsep “early discharge” sebagai bagian dari Home Based Midwifery Care.
Asuhan kebidanan secara tradisional telah memiliki asuhan yang berpusat pada wanita.Kontinuitas dari asuhan kebidanan dapat membentuk waktu yang efektif dalam pemantauan selama kunjungan prenatal sehingga dapat terjalin hubungan therapeutic secara personal antara bidan dan keluarganya.
     Asuhan yang berkelanjutan (continity of care) dapat membuat bidan dan keluarga balajar satu sama lain untuk menentukan rencana dan memberikan asuhan yang baik sesuai dengan kebutuhan, khususnya untuk klien. Dengan proses ini akan terbuka komunikasi dan membangun komitmen dari bidan dan keluarga dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan bersama. Partisipasi secara alami dalam home based midwifery care dapat memberikan kesempatan kepada calon orang tua untuk mempelajari cara-cara mengasuh bayinya. Keterampilan ini komponen yang penting dalam pendidikan prenatal karena bidan tidak selalu mendampingi ibu.
     Hubungan therapeutic dan dukungan secara “team” yang ditetapkan dalam home based midwifery care telah digunakan bertahun-tahun lalu. Dengan pendekatan ini diharapkan klien bisa mandiri secara dini.Hal ini yang telah menunjukkan hasil yang baik, dimana resiko yang terjadi pada ibu bisa segera diketahui. Kemandirian dari klien atau komponen integral dari home based midwifery care dan dapat diterapkan sebagai sebuah model pada wanita yang memilih melahirkan di rumah sakit.

B.     Teori Model Kebidanan
Teori adalah seperangkat konsep atau pernyataan yang dapat secara jelas menguraikan fenomena yang penting dalam sebuah disiplin teori yg termasuk dalam teori model kebidanan adalah :
1.         Ruper, Logan dan Tierney Activity of living Model
Model yang dipengaruhi oleh Virginia Henderson Model. Terdiri dari 5 elemen :
a.       Rentang Kehidupan
b.      Aktivitas Kehidupan
c.       Ketergantungan atau kebebasan individu
d.      Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas individu

    Dalam model ini diidentifikasi adanya 12 macam kebutuhan manusia sebagai proses kehidupan yaitu:
a.       Mempertahankan lingkungan yang aman
b.      Komunikasi
c.       Bernafas
d.      Makanan dan minuman
e.       Eliminasi
f.       Berpakaian dan kebersihan diri
g.      Pengaturan suhu tubuh
h.      Mobilisasi
i.        Bekerja dan bermain
j.        Seksualitas
k.      Tidur
2.         Rosemary Methven
    Merupakan aplikasi dari Oream dan Hendeson, model terhadap asuhan kebidanan, dimana dalam sistem perawatan ada 5 metode pemberian bantuan yaitu :
a.       Mengerjakan untuk klien
b.      Membimbing klien
c.       Mendukung klien ( secara fisik dan psikologis )
d.      Menyediakan lingkunagan yang mendukung kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan sekarang dan masa akan datang.
e.       Mengajarkan klien
Peran bidan adalah mengidentifikasi masalah klien dan melakukan sesuatu untuk membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya.Manfaat dari model ini menurut Methuen adalah sebagai bukti praktek pengkajian kebidanan yang tidak didasarkan pada kerangka kerja dari tradisi manapun.Sebagai dasarnya adalah kesehatan bukan kesakitan sehingga asuhan yang di berikan efektif bagi ibu dan memberikan kebebasan pada bidan untuk melakukan asuhan.



3.         Roy Adaption Model
Pencetusnya adalah suster Callista Roy (1960), sebagai dasarnya makhluk biopsikososial yang berhubungan dengan lingkungan. Dikemukakan tiga macam stimulasi yang mempengaruhi adaptasi kesehatan dari individu, yaitu : .
1.      Vokal stimuli.
Yaitu stimuli dari lingkungan di dekat individu, contohnya : kesehatan bayi akan mempengaruhi ibu yang baru saja melakukan fungsinya.
2.      Kontekstual stimuli
Yaitu factor-faktor umum yang mempenagaruhi wanita.Contohnya : Kondisi kehidupan yang buruk
3.      Residual stimuli
Yaitu faktor internal meliputi kepercayaan, pengalaman, dan sikap.Model kebidanan ini berguna bagi bidan dalam melakukan pengkajian secara menyeluruh (holistik).
4.         Neuman System Model
Yaitu model yang merupakan awal dari kesehatan individu dan komunitas (sistem klien) yang di gambarkan sebagai pusat energi yang di kelilingi oleh garis kekuatan dan pertahanan.
1.      Pusatnya adalah variable fisiologis, psikologis, sosial kultural dan spiritual
2.      Garis kekuatan adalah kemampuan sistem klien untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.
3.      Garis pertahanan menunjukan status kesehatan umurn dari individu

C.    Teori -Teori yang Mempengaruhi Model Kebidanan
1.      Teori Reva Rubin
Menekan pada pencapaian peran sebagai ibu, dimana untuk mencapai peran ini seorang wanita memerlukan proses belajar melalui serangkaian aktifitas atau latihan. Dengan demikian, seorang wanita terutama calon ibu dapat mempelajari peran yang akan dialaminya kelak sehingga ia mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi khususnya perubahan psikososial dalam kehamilan dan setelah persalinan.

Menurut Rubin, seorang wanita sejak hamil sudah memiliki harapan-harapan, antara lain :
1.      Kesejahteraan ibu dan bayinya
2.      Penerimaan dari masyarakat
3.      Penentuan identitas diri
4.      Mengerti tentang arti memberi dan menerima
Perubahan yang terjadi pada ibu hamil adalah
1.      Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian sehingga dapat berperan sebagai calon ibu dan dapat memperhatikan perkembangan janinnya.
2.      Ibu memerlukan sosialisasi
Tahap-tahap psikososial yg biasa dilalui oleh calon ibu dalam mencapai perannya:
1.      Anticipatory stage
Seorang ibu mulai melakukan latihan peran dan memerlukan interaksi dengan anak yang lain
2.      Honeymoon stage
Ibu mulai memahami sepenuhnya peran dasar yang dijalaninya. Pada tahap ini ibu memerlukan bantuan dari anggota keluarga yang lain.
3.      Plateu Stage
Ibu akan mencoba apakah ia mampu berperan sebagai seorang ibu. Tahap ini memerlukan waktu beberapa minggu sampai ibu kemudian melanjutkan sendiri.
4.      Disengagement
Merupakan tahap penyelesaian yang mana latihan peran sudah berakhir
Aspek-aspek yang diidentiflkasi dalam peran ibu adalah gambaran tentang idaman, gambaran diri dan tubuh. Gambaran diri seorang wanita adalah pandangan wanita tentang dirinya sendiri sebagai bagian dari pengalaman dirinya, sedangkan gambaran tubuh adalah berhubungan dengan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan dan perubahan spesifik yang terjadi selama kehamilan dan setelah persalinan
Beberapa tahapan aktifitas penting sebelum seseorang menjadi ibu
1.      Taking On (Tahapan Meniru)
Seorang wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan memulainya dengan meniru dan melakukan peran seorang ibu.

2.      Taking In
Seorang wanita sudah mulai membayangkan peran yang dilakukan.Introjection, projection, dan rejection merupakan tahap dimana wanita membedakan model - model yang sesuai dengan keinginannya.
3.      Letting Go
Wanita mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah dilakukannya. Pada tahapan ini seorang Wanita akan mulai meninggalkan perannya di masa lalu.

Adaptasi psikososial pada waktu post partum. Keberhasilan masa transisisi menjadi orang tua pada masa post partum dipengaruhi oleh :
1.      Respon dan dukungan dari keluarga
2.      Hubungan antara pengalaman saat melahirkan dengan harapan - harapan
3.      Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
4.      Budaya
    Rubin mengklasifikasikan tahapan ini menjadi 3 yaitu :
1.      Periode Taking In (hari ke 1-2 setelah melahirkan)
a.       Ibu masih pasif dan tergantung pada orang lain
b.      Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran pada perubahan tubuhnya.
c.       Ibu akan mengulangi pengalaman - pengalaman waktu melahirkan
d.      Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan keadaan tubuh ke kondisi normal
e.       Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan peningkatan nutrisi. Kurangnya nafsu makan menandakan proses pengembalian kondisi tubuh tidak berlangsung normal
2.      Periode Taking Hold (Hari ke 2 - 4 setelah melahirkan)
a.       Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orang tua dan meningkatkan tanggungjawab akan bayinya
b.      Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh, BAK, BAB, dan daya tubuh
c.       Ibu berusaha untuk menguasai- ketrampilan merawat bayi seperti menggendong, menyusui, memandikan dan mengganti popok.
d.      Ibu cenderung terbuka menerima nasehat bidan dan kritikan pribadi.
e.       Kemungkinan ibu mengalami depresi post partum karena merasa tidak mapu membesarkan bayinya.
3.       Periode Letting Go
a.       Terjadi setelah ibu pulang ke rumah dan di pengaruhi oleh dukungan serta perhatian keluarga
b.      Ibu sudah mengambil tanggungjawab dalam merawat bay! dan memahami kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi hak ibu dalam kebebasan dan hubungan sosial.

2.      Teori Ramona Mercer
Teori ini lebih menekankan pada stess ante partum dalam pencapaian peran ibu. Mercer membagi teorinya menjadi 2 pokok bahasan :
a.       Efek stress ante partum
Stress Ante partum adalah komplikasi dari resiko kahamilan dan pengalaman negatif dalam negatif dalam hidup seorang wanita. Tujuan asuhan yang di berikan adalah memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi ketidak percayaan diri ibu. Penelitian Mercer menunjukan ada 6 faktor yang berhubungan denagn status kesehatan ibu, yaitu :
1.      Hubungan interpersonal
2.      Peran keluarga
3.      Stress antepartum
4.      Dukungan sosial
5.      Rasa percaya diri
6.      Penguasaan rasa takut, ragu, dan depresi
Maternal role menurut Mercer adalah bagaimana seorang ibu memperoleh identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penjabaran yang lengkap tentang dirinya sendiri.

b.      Pencapaian peran ibu
Peran ibu dapat dicapai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya termasuk mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran. Lebih lanjut Mercer menyebutkan tentang stress antepartum terhadap fungsi keluarga baik yang positif maupun negatif. Stess antepartum karena resiko kehamilan akan mempengaruhi persepsi diri terhadap status kesehatan.
Empat tahapan dalam pelaksanaan peran ibu menurut Mercer :
a.       Anticipatory
Saat sebelum wanita menjadi ibu , dimana wanita mulai melakukan penyesuaian sosial dan psikologi dengan mempelajari segala sesuatu yg dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu.
b.      Formal
Wanita memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran dibutuhkan sesuai dengan kondisi sistem sosial
c.       Informal
Dimana wanita sudah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan perannya.
d.      Personal
Merupakan tahap terakhir, dimana wanita sudah mahir melakukan perannya sebagai ibu
Sebagai perbandingan, Rubin menyebutkan peran ibu sudah dimulai sejak ibu mulai hamil sampai 6 bualn setelah melahirkan, tetapi menurut Mercer mulainya peran ibu adalah setelah bayi lahir (3-7 bulan setelah melahirkan).
Wanita dalam mencapai peran ibu dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1.      Faktor ibu
a.       Umur ibu pada waktu melahirkan
b.      Persepsi ibu pada waktu melahirkan pertama kali
c.       Stress sosial
d.      Memisahkan ibu dengan anak secepatnya
e.       Dukungan sosial.
f.       Konsep diri
g.      Sifat pribadi
h.      Sikap terhadap membesarkan anak.
i.        Status kesehatan ibu.
2.      Faktor bayi
a.       Temperamen
b.      Kesehatan bayi
3.      Faktor-faktor lainnya
a.       Latar belakang etnik
b.      Status perkawinan
c.       Status ekonomi
Dari faktor sosial support, Mercer mengidentifikasikan adanya 4 faktor pendukung :
a.       Emotional support, yaitu perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti.
b.      Informational support, yaitu memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan ibu sehingga dapat membantu ibu untuk menolong dirinya sendiri.
c.       Physical support, misalnya dengan membantu merawat bayi dan memberikan tambahan dana.
d.      Appraisal support, ini memungkinkan individu mampu mengevaluasi dirinya sendiri dalam pencapaian peran ibu.
Mercer menegaskan bahwa umur, tingkat pendidikan, ras, status perkawinan, status ekonomi dan konsep diri adalah faktor - faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaian peran.
Peran bidan diharapkan oleh Mercer dalam teorinya adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugas dalam adaptasi peran dan mengidentifikasi faktor - faktor yang mempengaruhi pencapaian peran ini dan kotribusi dari stress antepartum.
    Stres dari pengalaman hidup yang buruk dan kehamilan berisiko membawa akibat negatif secara langsung pada penghargaan diri dan status kesehatannya : penghargaan diri, status kesehatan, dan dukungan sosial membawa akibat positif secara langsung pada penguasaan perasaan dan kemampuan orangtua ; penguasaan membawa perasaan akibat negatif secara langsung pada kegelisahan dan kehilangan dimana akhirnya juga membawa akibat negatif secara langsung pada fungsi keluarga.

3.      Teori Ernestine Wiedenbach
a.       The Agents : Midwife
Fillosofi yang di kemukakan adalah tentang kebutuhan ibu dan bayi yang segera, untuk mengembangkan kebutuhan yang lebih luas yaitu kebutuhan untuk persiapan menjadi orang tua.
b.      The Recipient
Meliputi : wanita, keluarga dan masyarakat. Recipient menurut Wiedenbach adalah individu yang mampu menentukan kebutuhannya akan bantuan.
c.       The Goal / Purpose
Disesuaikan denagn kebutuhan masing - masing individu dengan memperhatikan tingkah laku fisik, emosional, atau fisiologikal.
d.      The Means
Metode untuk mencapai tujuan asuhan kebidanan ada 4 tahapan :
1.      Identifikasi kebutuhan klien (Identification), memerlukan keterampilan dan ide
2.      Memberikan dukungan dalam mencapai pertolongan yang dibutuhkan (Ministrasion)
3.      Memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan (validation)
4.      Mengkoordinasi tenaga yang ada untuk memberikan bantuan (Coordination)
5.      The Framework meliputi lingkungan social, Organisasi & profesi.

4.      Teori Ela Joy Lerliman dan Morten
Teori ini mengharapkan bidan dapat melihat semua aspek dalam memberikan asuhan dalam ibu hamil dan bersalin. Lerhman dan morten mengemukakan 8 konsep penting dalam pelayanan antenatal :
a.       Asuhan Kebidanan yang berkesinambungan
b.      Keluarga sebagai pusat asuhan kebidanan.
c.       Pendidikan dan konseling merupakan sebagian dari asuhan
d.      Tidak ada intervensi dalam asuhan kebidanan.
e.       Keterlibatan dalam asuhan kebidanan
f.       Advokasi dari pelayanan kebidanan.
    Morten ( 1991 ) mendambakan 3 macam dalam teori Lerhman "
a.       Tehknik teurapetik
Proses komunikasi sangat bermantaat dlm proses perkembangan & penyembuhan, misalnya :
1.      Mendengar aktif
2.      Mengkaji
3.      Klarifikasi
4.      Humor
5.      Sikap yang tidak menuduh
6.      Pengakuan.
7.      Fasilitasi
8.      Pemberian izin
b.      Pemberdayaan (Enpowerment)
Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan. Bidan melalui penampilan dan pendekatannya akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengkoreksi, memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.
c.       Hubungan dengan sesama ( Lateral Relationship )
Menjalin hubungan yang baik dengan klien, bersikap terbuka, sejalan dengan klien, sehingga bidan dan kliennya nampak akrab. Misalnya sikap empati atau berbagi pengalaman

5.      Teori Jean Ball
Menurut Jean Ball respon terhadap perubahan setelah melahirkan akan mempengaruhi personality seseorang dan dengan dukungan mereka akan mendapatkan sistem keluarga dan sosial. Persiapan yang sudah dilakukan bidan pada masa postnatal akan mempengaruhi respon emotional wanita terhadap perubahan akibat proses kelahiran tersebut. Kesejahteraan wanita setelah melahirkan sangat tergantung pada personality atau kepribadian, sistem dukungan pribadi dan dukungan dari pelayanan maternitas.
Ball mengemukakan teori kursi goyang yang di bentuk 3 elemen
1.      Pelayanan maternitas.
2.      Pandangan masyarakat terhadap keluarga.
3.      Sisi penyangga atau support terhadap kepribadian vvanita

6.      Teori Dorothea E. Orem
a.       Teori Self-care
Teori ini mengemukakan bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan untuk merawat dirinya sendiri dan berhak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri kecuali jika tidak memungkinkan,orang yang biasa memenuhi kebutuhan self care sendiri di sebut Self Care Agent.sedangkan bagi bayi,anak,orang yang sakit berat atau tidak sadar,keluarga atau orang tua merupakan Dependent Care Agent.
Kebutuhan Self Care dibagi 3 kategori;
1.    Universal Self Care
Yaitukebutuhan dasar manusia meliputi kebutuhan udara,air,makanan,eliminasi,keseimbangan aktifitas dan istirahat.
2.    Development Self Care
Yaitu kebutuhan yang timbul menurut tahap perkembangan individu dan lingkungan dimana individu tersebut berada, sehingga kebutuhan ini di hubungkan dengan siklus kehidupan manusia.
3.    Health Deviation Self Care
Kebutuhan yang ada jika seseorang kesehatannya terganggu yang mengakibatkan perubahan perilaku self care.

b.      Teori Self-care Defisit
Bila individu mampu untuk memenuhi tuntutan self care maka kebutuhan untuk merawat diri sendiri akan terpenuhi, tetapi bila tuntutan lebih besar dari kemampuan maka akan terjadi ketidak seimbangan yang disebut self care defisit.Tujuan untuk memenuhi kebutuhan self care dapat dicapai dengan :
1.      Menurunkan kebutuhan self care ke tahap dimana pasien dapat memenuhinya.
2.      Meningkatkan kemampuan pasien untuk dapat memenuhi self care.
3.      Mengijinkan keluarga atau orang lain untuk memberikan dependent care bila self care tidak memungkinkan.
4.      Jika hal tersebut tidak dapat dilaksanakan maka bidan yang akan melaksanakannya bantuan yang dapat diberikan adalah berupa: berperan atau melakukan, mengajak, membimbing, mendukung dan menciptakan lingkungan yang menunjang tumbuh kembang.
Untuk dapat memberikan maka bidan harus memperhatikan  aspek penting yaitu:
1.      Menjalin hubungan baik dengan pasien dan keluarga sampai kelompok tersebut mampu melaksanakan asuhan sendiri.
2.      Menentukan bantuan yang dibutuhkan pasien.
3.      Memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
4.      Merencanakan bantuan langsung bersama pasien dan keluarga.
5.      Mengintergrasikan asuhan dengan kegiatan sehari hari pasien dan pelayanan kesehatan lainya sehingga untuk memberikan bantuan kepada pasien diperlukan pengetahuan tentang manusia, kebutuhan self care, self care defisit, dan menerapkan 5 teori bantuan.

D.    Model Kebidanan Di Beberapa Negara
1.      United Kingdom
a.       Bidan Inggris menuntut adanya pelayanan mandiri dan menolak medical modal karena dianggap tidak cocok dengan praktek kebidanan
b.      Mereka lebih banyak menggunakan Orem Self Care Model
c.       Keuntungan bagi wanita adalah menernpatkan kebutuhan wanita sebagai prioritas utama, wanita berhak memilih asuhan yang diinginkan dan rencana kelahiranya
d.      Keuntungan bagi bidan adalah memudahkan bidan dalam memberikan asuhan yang berkesinambungan dan menerapkan women center care, memudahkan dalam melakukan asuhan mandiri dan komprehensif pada ibu, bayi dan keluarga
2.      Australia
a.       Menggunakan modal partnership kebidanan dimana wanita sebagai partner bidan dalam berbagai pengalaman tentang proses melahirkan dan melahirkan adalah proses yang normal dalam kebidanan.
b.      Prinsip - prinsip yang mendasari partnership dalam kebidanan adalah:
1)      Mengetahui dan mendukung kesatuan antara tubuh, pikiran, jiwa, lingkungan fisik dan social budaya (suatu yang holistic)
2)      Sebagian besar wanita dapat melahirkan bayi tanpa intervensi.
3)      Mendukung proses alamiah dalam tubuh .
4)      Pelayanan kebidanan adalah seni dan ilmu, pendekatan pemecahan masalah di gunakan bila diperlukan .
5)      Pelayanan kebidanan berpusat pada wanita.
6)      Berhubungan dengan proses pencapaian peran ibu.
7)      Memberdayakan wanita dalam pengambilan keputusan.
8)      Pelayanan kebidanan dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup praktek. Individu yang mengacu pada wanita dan petugas kesehatan lain jika di butuhkan.
3.      New Zealand
a.       Menggunakan model patnership bidan dengan ibu. Adapun fillosofi yang mendasari:
1)      Kehamilan dan persalinan adalah proses kehidupan yang normal
2)      Tugas kebidanan secara profesional adalah pendamping ibu dalam kehamilan, persalinan dan periode post natal normal.
3)      Kebidanan memberikan pelayanan kepada wanita secara berkesinambungan
4)      Kebidanan berpusat pada wanita

E.     Women Center Care
1.      Pengertian Women Center Care
Women Center Care adalah asuhan kesehatan yang berpusat pada wanita. Dalam kebidanan terpusat pada ibu (wanita) adalah suatu konsep yang mencakup hal- hal yang lebih memfoluskan pada pada kebutuhan, harapan, dan aspirasi masing- masing wanita dengan memperhatikan lingkungan sosialnya dari pada kebutuhan institusi atau profesi terkait (Hidayat Asri,Dkk,2009).
Women Centered Care adalah istilah yang digunakan untuk filosofi asuhan maternitas yang memberi prioritas pada keinginan dan kebutuhan pengguna, dan menekankan pentingnya informed choice, kontinuitas perawatan, keterlibatan pengguna, efektivitas klinis, respon dan aksesibilitas. Dalam hal ini bidan difokuskan memberikan dukungan pada wanita dalam upaya memperoleh status yang sama di masyarakat untuk memilih dan memutuskan perawatan kesehatan dirinya.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh suatu badan yaitu House of Commons Health Committee tahun 1992, disimpulkan bahwa terdapat permintaan yang meluas pada kaum wanita untuk memiliki pilihan yang lebih besar dalam menentukan jenis asuhan maternitas yang mereka dapatkan dan bahwa struktur pelayanan maternitas saat ini membuat mereka frustasi bukan memfasilitasi mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya asuhan yang berorientasi pada wanita dimana mereka punya peran dalam menentukan pilihan sehingga terpenuhi kebutuhannya dan timbul kepuasaan.Hal tersebut juga menunjukkan bahwa Asuhan yang berorintasi pada wanita atau Women Centre Care amat penting untuk kemajuan Praktik kebidanan.Dalam praktik kebidanan, “Women Centered Care” adalah sebuah konsep yang menyiratkan hal berikut :
1.      Perawatan yang berfokus pada kebutuhan wanita yang unik, harapan dan aspirasi wanita tersebut daripada kebutuhan lembaga-lembaga atau profesi yang terlibat.
2.      Memperhatikan hak-hak perempuan untuk menentukan nasib sendiri dalam hal pilihan, kontrol dan kontinuitas perawatan dalam bidang kebidanan
3.      Meliputi kebutuhan janin, bayi, atau keluarga wanita itu, orang lain yang signifikan,seperti yang diidentifikasi dan dipercaya oleh wanita tersebut.
4.      Melibatkan peran serta masyarakat, melalui semua tahap mulai dari kehamilan,persalinan, dan setelah kelahiran bayi.
5.      Melibatkan kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya bila diperlukan.
6.       ‘Holistik’ dalam hal menangani masalah sosial wanita, emosional, fisik, psikologis, kebutuhan spritual dan budaya.
Terpusat pada ibu memiliki sifat holistic (menyeluruh) dalam membahas kebutuhan dan ekspetasi, social, emosional, fisik, psikologis, spiritual, dan kebudayaan ibu. Bentuk-bentuk women Center Care di Indonesia merupakan progam untuk menurunkan angka kematian ibu yang merujuk pada progam sedunia yang didukung oleh WHO yaitu:
1.      Safe Motherhood  
2.      The mother Friendly Movement Tahun 1996 yang diterjemahkan sebagai Gerakan Sayang Ibu (GSI)
3.      Live Saving Skill
4.      Komunikasi Interpersonal dan konseling
5.      Asuhan Persalinan Dasar (APD) yang kemudian berkembang menjadi AsuhanPersalinan Normal (APN)  Tahun 2000
6.      Making Pregnancy Safer (MPS) tahun 2000
7.      IBI mengeluarkan standar asuhan kebidanan dan usulan peningkatan pendidikan  Kebidanan  dari D1, D3, D4, S2


Referensi :

1.      AA. Gde Muninjay, (1997), Manajemen Kesehatan, EGC Kedokteran, Jakarta
2.      Burbst, A.August, dkk, Editor Sanur Ahmad, (2000), Pemberdayaan Wanita Dalam Bidang Kesehatan, yayasan Essentia Medica, Yogyakarta
3.      Deokes RI, (2003), Konsep Asuhan Kebidanan, Tridasi Printer, Jakarta
4.      Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia, (2003), Manajemen Kebidanan Metode SOAP, Jakarta.
5.      Pengurus Pusat IBI, (2003), 50 tahun IBI Menyongsong Masa Depan, Jakarta
6.      Varney, Helen, (1997), Varneys Midwifery, Third Edition, UK : Jones & Barlett Publishers Internasional.
7.      Wendy Rose-Neil, (2001), Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan, Dian Dian Rakyat, Jakarta
8.      Henderson, Christine.2005. Buku Ajaran Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC
9.      Hidayat, Asri. 2011. Buku Konsep Kebidanan ( Edisi Revisi). Yogyakarta: Nuha Medika
10.  Prawiharjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pusaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar