A.
Model
Konseptual Asuhan Kebidanan
1. Pengertian
Model Konseptual Asuhan Kebidanan
Konseptual model asuhan kebidanan adalah
suatu bentuk pedoman/acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan yang
dipengaruhi oleh filosofi yang dianut bidan (filosofi asuhan kebidanan)
meliputi unsur-unsur yang terdapat dalam paradigma kesehatan (manusia-perilaku,
lingkungan dan pelayanan kesehatan.
2. Model
konseptual kebidanan adalah:
Gambaran abstrak suatu ide yang menjadi
dasar suatu disiplin ilmu.Pada dasarnya sama dengan pengertian konsep kerangka
kerja, sistem, dan skema. Menunjukkan pada ide global tentang individu,
kelompok, situasi, dan kejadian yang menarik untuk suatu ilmu.Konseptual model
biasanya berkembang dari wawasan intuitif, keilmuan dan seringkali disimpulkan
dalam kerangka acuan disiplin ilmu yang bersangkutan (Fawcett, 1992) sehingga
konseptual model memberikan gambaran abstrak atau ide yang mendasari suatu
disiplin ilmu.
Model memberi kerangka untuk memahami
dan mengembangkan praktik untuk membimbing tindakan dalam pendidikan untuk
mengidentifikasi pertanyaan yang harus dijawab dalam penelitian. Konsep model
ditunjukkan dengan banyak cara yaitu mental model, fisikal model, dan simbolik
(Lancaster and Lavcaster, 1992)
3. Kegunaan
Model Konseptual Asuhan Kebidanan
a. Kegunaan
Model Konseptual adalah:
1) Untuk
menggambarkan beberapa aspek (kongkret maupun abstrak) dengan mengartikan
persamaannya seperti struktur gambar, diagram, dan rumus. Model tidak seperti
teori, tidak memfokuskan pada hubungan antara dua fenomena tapi lebih mengarah
pada struktur dan fungsi. Sebuah model pada dasarnya analogi atau gambar
simbolik sebuah ide (Wilson, 1985)
2) Merupakan
gagasan mental sebagai bagian teori yang memberikan bantuan ilmu-ilmu sosial
dalam mengonsep dan menyamakan aspek-aspek dalam proses sosial (Gaith and
Smith, 1976)
3) Menggambarkan
sebuah kenyataan, gambaran abstrak sehingga banyak digunakan oleh disiplin ilmu
lain sebagai parameter garis besar praktik (Bemer, 1984)
b. Kegunaan Model Asuhan Kebidanan:
1) Menyatukan data secara lengkap
a) Tindakan sebagai bantuan dalam
komunikasi antara bidan dan pimpinan.
b) Dalam pendidikan untuk
mengorganisasikan program belajar.
c) Untuk komunikasi bidan dengan klien.
2) Menjelaskan siapa itu bidan, apa
yang dikerjakan, keinginan, dan kebutuhan untuk:
a) Mengembangkan profesi.
b) Mendidik siswi bidan.
c) Komunikasi dengan klien dan
pimpinan.
4. Macam-macam Model Konseptual Asuhan
Kebidanan
a. Model dalam Mengkaji Kebutuhan dalam
Praktik Kebidanan.Model ini memiliki empat unit yang penting, yaitu:
1. Ibu dalam keluarga.
2. Konsep kebutuhan.
3.
Partnership.
4.
Faktor
kedokteran dan keterbukaan.
b. Model Medikal
Model
Medikal merupakan salah satu model yang dikembangkan untuk membantu manusia
dalam memahami proses sehat sakit dalam arti keasehatan. Tujuannya adalah
sebagai kerangka kerja untuk pemahaman dan tindakan sehingga dipertanyakan
dalam model ini adalah “Dapatkah dengan mudah dipahami dan dapatkah dipakai
dalam praktik?”.
Model
medikal lebih banyak digunakan dalam bidang kedokteran dan lebih berfokus pada
proses penyakit dan mengobati ketidaksempurnaan.Yang tercakup dalam model
medikal adalah:
1.
Berorientasi
pada penyakit.
2.
Meganggap
bahwa akal atau pikiran dan badan terpisah.
3.
Manusia
menguasai alam.
4.
Yang
tidak biasa menjadi menarik.
5.
Informasi
yang terbatas pada klien.
6.
Pasien
berperan pasif.
7.
Dokter
yang menentukan.
8.
Tingginya
teknologi menaikkan prestise.
9.
Prioritas
kesehatan individu dari pada kesehatan komunitas.
10.
Penyakit
dan kesehatan adalah domain dokter.
11.
Pemahaman
manusia berdasarkan mekanik dan bioengineering.
Model
medikal ini kurang cocok untuk praktik kebidanan karena terlalu berorientasi
pada penyakit dan tidak memberi kesempatan klien untuk menentukan nasibnya
sendiri.Walaupun demikian, kenyataannya masih banyak yang terpengaruh pada
model medikal ini.
c. Model Sehat untuk Semua (Health For All-HFA)
Model ini
dicetuskan oleh WHO dalam Deklarasi Alma Atta tahun 1978. Fokus pelayanan
ditujukan kepada wanita, keluarga, dan masyarakat serta sebagai sarana
komunikasi dari bidan-bidan negara lain. Tema HFA menurut Euis dan Simmer
(1992):
1.
Mengurangi
ketidaksamaan kesehatan.
2.
Perbaikan
kesehatan melalui usaha promotif dan preventif.
3.
Partisipasi
masyarakat.
4.
Kerja
sama yang baik antara pemerintah dengan sektor lain yang terkait.
5.
Primary Health Care (PHC) adalah dasar pelayanan utama dari
sistem pelayanankesehatan. PHC adalah pelayanan kesehatan pokok yang didasarkan
pada praktik, ilmu pengetahuan yang logis dan metode sosial yang tepat serta
teknologi universal yang dapatdiperoleh individu dan keluarga dalam komunitas
melalui partisipasi dan merupakan nilai dalam masyarakat dan negara yang mampu
menjaga setiap langkah perkembangan berdasarkan kepercayaan dan ketentuannya.
Dari model HFA dan definisi PHC terdapat
lima konsep (WHO,1998):
a)
Hak
penentuan kesehatan oleh cakupan populasi universal dengan penyedia asuhan
berdasarkan kebutuhan.
b)
Pelayanan
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dimana pelayanan dapat
memenuhi segala macam tipe-tipe kebutuhan yang berbeda harus disediakan dalam
satu kesatuan (semua pelayanan dalam satu tempat).
c)
Pelayanan
harus efektif, dapat diterimaoleh norma, dapat menghasilkan, dan diatur. Yaitu pelayanan
harus dapat memenuhi kebutuhan yang dapat diterima oleh masyarakat dan
pelayanan harus dimonitor dan diatur secara efektif.
d)
Komunitas
harus terlibat dalam pengembangan, penentuan dan pemonitoran pelayanan. Yaitu
penentuan asuhan kesehatan merupakan tanggung jawab semua komunitas dan
kesehatan dipandang sebagai faktor yang berperan untuk pengembangan seluruh
lapisan masyarakat.
e)
Kolaborasi
antar sekolah untuk kesehatan itu sendiri dan pelayanan kesehatan tidak dapat
bergantung pada pelayanan kesehatan saja tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti perumahan, polusi lingkungan, persediaan makanan, dan metode
publikasi.
Delapan
area untuk mencapai kesehatan bagi semua melalui PHC, delapan area ini adalah:
1.
Pendidikan
tentang masalah kesehatan umum dan metode pencegahan dan pengontrolannya.
2.
kesehatan
tentang persediaan makanan dan nutrisi yang layak.
3.
Persediaan
air yang sehat dan sanitasi dasar yang adekuat.
4.
Promosi
Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana.
5.
Imunisasi.
6.
Pencegahan
dan pengawasan penyakit endemik.
7.
Pengontrolan
yang tepat terhadap kecelakaan dan penyakit umum.
8.
Persediaan
obat-obat essensial (Morley at all, 1989).
d. Model Sistem Maternitas di Komunitas
yang Ideal
University
of Southeer Queensland
1. Model kurikulum konseptual partnership dalam praktik kebidanan
berdasarkan pada model pelayanan kesehatan dasar (Guilliland and Pairman,
1995).
2. Partnership
kebidanan adalah sebuah filosofi
prospektif dan suatu model kepedulian (model
of care) sebagai model filosofi prospektif berpendapat bahwa wanita dan
bidan dapat berbagi pengalaman dalam proses persalinan.
3. Persalinan merupakan proses yang
sangat normal.
4. Sebuah hubungan partnership menggambarkan dua orang yang bekerjasama dan saling
menguntungkan.
5. Bidan bekerja keras bahwa bidan tidak
memaksakan suatu tindakan melainkan membantu wanita untuk mengambil keputusan
sendiri.
6. Konsep “wanita” dalam asuhan
kebidanan meliputi mitra perempuan tersebut, keluarga, kelompok, dan budaya.
7. Konsep bidan dalam asuhan kebidanan
meliputi bidan itu sendiri, mitranya atau keluarga, budaya atau sub kultur
bidan tersebut, dan wewenang profesional bidan.
8. Dengan membentuk hubungan antara
bidan dan wanita akan membawa mereka sendiri sebagai manusia ke dalam suatu
hubungan partnership yang mana akan
mereka gunakan dalam teraupetik. Bidan
harus mempunyai self knowing, self
nursing, dan merupakan jaringan pribadi dan kolektif yang mendukung.
9. Sebagai model of care the midwifery partnership didasarkan pada prinsip midwifery care berikut ini:
a. Mengakui dan mendukung adanya
keterkaitan antara badan, pikiran, jiwa, fisik, dan lingkungan kultur sosial (holism).
b. Berasumsi bahwa mayoritas kasus
wanita yang bersalin dapat ditolong tanpa adanya intervensi.
c. Mendukung dan meningkatkan proses
persalinan alami tersebut.
d. Bidan menggunakan suatu pendekatan
pemecahan masalah dengan seni dan ilmu pengetahuan.
e. Relationship-based
dan kesinambungan dalam motherhood.
f. Woman
centered bertukar
pikiran antara wanita.
g. Kekuasaan wanita yaitu berdasarkan
tanggung jawab bersama untuk pengambilan suatu keputusan, tetapi wanita
mempunyai kontrol atas keputusan terakhir mengenai keadaan diri dan bayinya.
h. Dibatasi oleh hukum dan ruang
lingkup praktik individu dengan persetujuan wanita bidan merujuk fasilitas
pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas.
Hubunganantara
wanita, bidan, dan dokter harus didasari oleh rasa saling menghormati dan
saling percaya, bidan boleh mempertanyakan masalah medis atau perilndungan
hukum untuk wanita untuk alasan apapun, jika wanita tersebut tidak mampu
berbicara atas namanya sendiri.
Persepsi
mahasiswa kebidanan ditentukan oleh bidan di bagian pelayanan untuk mengantisipasi mahasiswa dalam menghadapi
kasus yang ditemukan di dalam tim, tetapi praktik mahasiswa akan dibatasi oleh
bidan dan akan mengajarkan beberapa pelayanan khusus kebidanan yang akan
meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa, peran perseptor akan semakin
berkurang dalam praktik dan hanya akan menjadi penasihat dan pendukung.
e. Model Asuhan Home Based
Dasar asuhan kebidanan berdasarkan home
based merupakan unsure therapeutic
yang terdiri dari sebuah kesadaran dan menjaga hubungan yang dibangun atas
dasar kepercayaan dan dibentuk untuk memfasilitasi asuhan yang berkualitas.
Tanggung jawab dan kejujuran merupakan hal yang harus dibangun dalam hubungan
antara bidan dan klien. Proses persalinan di rumah (Home Birth) sejak lama telah menggunakan konsep “early discharge” sebagai bagian dari Home Based Midwifery Care.
Asuhan
kebidanan secara tradisional telah memiliki asuhan yang berpusat pada
wanita.Kontinuitas dari asuhan kebidanan dapat membentuk waktu yang efektif
dalam pemantauan selama kunjungan prenatal sehingga dapat terjalin hubungan
therapeutic secara personal antara bidan dan keluarganya.
Asuhan yang berkelanjutan (continity of care) dapat membuat bidan
dan keluarga balajar satu sama lain untuk menentukan rencana dan memberikan
asuhan yang baik sesuai dengan kebutuhan, khususnya untuk klien. Dengan proses
ini akan terbuka komunikasi dan membangun komitmen dari bidan dan keluarga
dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan bersama. Partisipasi secara
alami dalam home based midwifery care
dapat memberikan kesempatan kepada calon orang tua untuk mempelajari cara-cara
mengasuh bayinya. Keterampilan ini komponen yang penting dalam pendidikan
prenatal karena bidan tidak selalu mendampingi ibu.
Hubungan therapeutic dan dukungan secara “team” yang ditetapkan dalam home
based midwifery care telah digunakan bertahun-tahun lalu. Dengan pendekatan
ini diharapkan klien bisa mandiri secara dini.Hal ini yang telah menunjukkan
hasil yang baik, dimana resiko yang terjadi pada ibu bisa segera diketahui.
Kemandirian dari klien atau komponen integral dari home based midwifery care dan dapat diterapkan sebagai sebuah model
pada wanita yang memilih melahirkan di rumah sakit.
B.
Teori Model Kebidanan
Teori adalah seperangkat konsep atau pernyataan yang dapat
secara jelas menguraikan fenomena yang penting dalam sebuah disiplin teori yg
termasuk dalam teori model kebidanan adalah :
1.
Ruper, Logan dan Tierney Activity of
living Model
Model yang dipengaruhi oleh Virginia
Henderson Model. Terdiri dari 5 elemen :
a.
Rentang
Kehidupan
b.
Aktivitas
Kehidupan
c.
Ketergantungan
atau kebebasan individu
d.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi aktivitas individu
Dalam model ini diidentifikasi adanya 12 macam kebutuhan manusia sebagai
proses kehidupan yaitu:
a. Mempertahankan lingkungan yang aman
b. Komunikasi
c. Bernafas
d. Makanan dan minuman
e. Eliminasi
f. Berpakaian dan kebersihan diri
g. Pengaturan suhu tubuh
h. Mobilisasi
i.
Bekerja
dan bermain
j.
Seksualitas
k. Tidur
2.
Rosemary Methven
Merupakan aplikasi dari Oream dan Hendeson, model terhadap asuhan
kebidanan, dimana dalam sistem perawatan ada 5 metode pemberian bantuan yaitu :
a.
Mengerjakan
untuk klien
b.
Membimbing
klien
c.
Mendukung
klien ( secara fisik dan psikologis )
d.
Menyediakan
lingkunagan yang mendukung kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan sekarang
dan masa akan datang.
e.
Mengajarkan
klien
Peran bidan adalah mengidentifikasi
masalah klien dan melakukan sesuatu untuk membantu klien untuk memenuhi
kebutuhannya.Manfaat dari model ini menurut Methuen adalah sebagai bukti
praktek pengkajian kebidanan yang tidak didasarkan pada kerangka kerja dari
tradisi manapun.Sebagai dasarnya adalah kesehatan bukan kesakitan sehingga
asuhan yang di berikan efektif bagi ibu dan memberikan kebebasan pada bidan
untuk melakukan asuhan.
3.
Roy Adaption Model
Pencetusnya adalah suster Callista
Roy (1960), sebagai dasarnya makhluk biopsikososial yang berhubungan dengan
lingkungan. Dikemukakan tiga macam stimulasi yang mempengaruhi adaptasi
kesehatan dari individu, yaitu : .
1. Vokal stimuli.
Yaitu
stimuli dari lingkungan di dekat individu, contohnya : kesehatan bayi akan
mempengaruhi ibu yang baru saja melakukan fungsinya.
2. Kontekstual stimuli
Yaitu
factor-faktor umum yang mempenagaruhi wanita.Contohnya : Kondisi kehidupan yang
buruk
3. Residual stimuli
Yaitu
faktor internal meliputi kepercayaan, pengalaman, dan sikap.Model kebidanan ini
berguna bagi bidan dalam melakukan pengkajian secara menyeluruh (holistik).
4.
Neuman System Model
Yaitu model yang merupakan awal dari
kesehatan individu dan komunitas (sistem klien) yang di gambarkan sebagai pusat
energi yang di kelilingi oleh garis kekuatan dan pertahanan.
1. Pusatnya adalah variable fisiologis,
psikologis, sosial kultural dan spiritual
2. Garis kekuatan adalah kemampuan
sistem klien untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.
3. Garis pertahanan menunjukan status
kesehatan umurn dari individu
C.
Teori -Teori yang Mempengaruhi Model
Kebidanan
1.
Teori Reva Rubin
Menekan pada pencapaian peran
sebagai ibu, dimana untuk mencapai peran ini seorang wanita memerlukan proses
belajar melalui serangkaian aktifitas atau latihan. Dengan demikian, seorang
wanita terutama calon ibu dapat mempelajari peran yang akan dialaminya kelak
sehingga ia mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi khususnya
perubahan psikososial dalam kehamilan dan setelah persalinan.
Menurut Rubin, seorang wanita sejak
hamil sudah memiliki harapan-harapan, antara lain :
1. Kesejahteraan ibu dan bayinya
2. Penerimaan dari masyarakat
3. Penentuan identitas diri
4. Mengerti tentang arti memberi dan
menerima
Perubahan yang terjadi pada ibu
hamil adalah
1. Ibu cenderung lebih tergantung dan
lebih memerlukan perhatian sehingga dapat berperan sebagai calon ibu dan dapat
memperhatikan perkembangan janinnya.
2. Ibu memerlukan sosialisasi
Tahap-tahap psikososial yg biasa
dilalui oleh calon ibu dalam mencapai perannya:
1. Anticipatory
stage
Seorang
ibu mulai melakukan latihan peran dan memerlukan interaksi dengan anak yang
lain
2. Honeymoon
stage
Ibu
mulai memahami sepenuhnya peran dasar yang dijalaninya. Pada tahap ini ibu
memerlukan bantuan dari anggota keluarga yang lain.
3. Plateu Stage
Ibu
akan mencoba apakah ia mampu berperan sebagai seorang ibu. Tahap ini memerlukan
waktu beberapa minggu sampai ibu kemudian melanjutkan sendiri.
4. Disengagement
Merupakan
tahap penyelesaian yang mana latihan peran sudah berakhir
Aspek-aspek yang diidentiflkasi
dalam peran ibu adalah gambaran tentang idaman, gambaran diri dan tubuh.
Gambaran diri seorang wanita adalah pandangan wanita tentang dirinya sendiri
sebagai bagian dari pengalaman dirinya, sedangkan gambaran tubuh adalah
berhubungan dengan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan dan perubahan
spesifik yang terjadi selama kehamilan dan setelah persalinan
Beberapa tahapan aktifitas penting
sebelum seseorang menjadi ibu
1. Taking
On (Tahapan Meniru)
Seorang
wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan memulainya dengan meniru dan
melakukan peran seorang ibu.
2.
Taking In
Seorang
wanita sudah mulai membayangkan peran yang dilakukan.Introjection, projection,
dan rejection merupakan tahap dimana wanita membedakan model - model yang
sesuai dengan keinginannya.
3.
Letting Go
Wanita
mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah dilakukannya. Pada tahapan
ini seorang Wanita akan mulai meninggalkan perannya di masa lalu.
Adaptasi psikososial pada waktu post
partum. Keberhasilan masa transisisi menjadi orang tua pada masa post partum
dipengaruhi oleh :
1. Respon dan dukungan dari keluarga
2. Hubungan antara pengalaman saat
melahirkan dengan harapan - harapan
3. Pengalaman melahirkan dan
membesarkan anak yang lalu
4. Budaya
Rubin mengklasifikasikan tahapan ini menjadi 3 yaitu :
1. Periode Taking In (hari ke 1-2
setelah melahirkan)
a. Ibu masih pasif dan tergantung pada
orang lain
b. Perhatian ibu tertuju pada
kekhawatiran pada perubahan tubuhnya.
c. Ibu akan mengulangi pengalaman -
pengalaman waktu melahirkan
d. Memerlukan ketenangan dalam tidur
untuk mengembalikan keadaan tubuh ke kondisi normal
e. Nafsu makan ibu biasanya bertambah
sehingga membutuhkan peningkatan nutrisi. Kurangnya nafsu makan menandakan
proses pengembalian kondisi tubuh tidak berlangsung normal
2. Periode Taking Hold (Hari ke 2 - 4
setelah melahirkan)
a. Ibu memperhatikan kemampuan menjadi
orang tua dan meningkatkan tanggungjawab akan bayinya
b. Ibu memfokuskan perhatian pada
pengontrolan fungsi tubuh, BAK, BAB, dan daya tubuh
c. Ibu berusaha untuk menguasai-
ketrampilan merawat bayi seperti menggendong, menyusui, memandikan dan
mengganti popok.
d. Ibu cenderung terbuka menerima
nasehat bidan dan kritikan pribadi.
e. Kemungkinan ibu mengalami depresi
post partum karena merasa tidak mapu membesarkan bayinya.
3. Periode Letting Go
a. Terjadi setelah ibu pulang ke rumah
dan di pengaruhi oleh dukungan serta perhatian keluarga
b. Ibu sudah mengambil tanggungjawab
dalam merawat bay! dan memahami kebutuhan bayi sehingga akan mengurangi hak ibu
dalam kebebasan dan hubungan sosial.
2.
Teori Ramona Mercer
Teori ini lebih menekankan pada stess ante partum dalam
pencapaian peran ibu. Mercer membagi teorinya menjadi 2 pokok bahasan :
a. Efek stress ante partum
Stress
Ante partum adalah komplikasi dari resiko kahamilan dan pengalaman negatif
dalam negatif dalam hidup seorang wanita. Tujuan asuhan yang di berikan adalah
memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi ketidak percayaan diri ibu.
Penelitian Mercer menunjukan ada 6 faktor yang berhubungan denagn status
kesehatan ibu, yaitu :
1. Hubungan interpersonal
2. Peran keluarga
3. Stress antepartum
4. Dukungan sosial
5. Rasa percaya diri
6. Penguasaan rasa takut, ragu, dan
depresi
Maternal
role menurut Mercer adalah bagaimana seorang ibu memperoleh identitas baru yang
membutuhkan pemikiran dan penjabaran yang lengkap tentang dirinya sendiri.
b. Pencapaian peran ibu
Peran
ibu dapat dicapai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya termasuk
mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran. Lebih lanjut Mercer menyebutkan
tentang stress antepartum terhadap fungsi keluarga baik yang positif maupun
negatif. Stess antepartum karena resiko kehamilan akan mempengaruhi persepsi diri
terhadap status kesehatan.
Empat
tahapan dalam pelaksanaan peran ibu menurut Mercer :
a. Anticipatory
Saat
sebelum wanita menjadi ibu , dimana wanita mulai melakukan penyesuaian sosial
dan psikologi dengan mempelajari segala sesuatu yg dibutuhkan untuk menjadi
seorang ibu.
b. Formal
Wanita
memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran dibutuhkan sesuai dengan
kondisi sistem sosial
c. Informal
Dimana
wanita sudah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan perannya.
d. Personal
Merupakan
tahap terakhir, dimana wanita sudah mahir melakukan perannya sebagai ibu
Sebagai perbandingan, Rubin menyebutkan peran ibu sudah
dimulai sejak ibu mulai hamil sampai 6 bualn setelah melahirkan, tetapi menurut
Mercer mulainya peran ibu adalah setelah bayi lahir (3-7 bulan setelah
melahirkan).
Wanita dalam mencapai peran ibu dipengaruhi oleh
faktor-faktor:
1. Faktor ibu
a. Umur ibu pada waktu melahirkan
b. Persepsi ibu pada waktu melahirkan
pertama kali
c. Stress sosial
d. Memisahkan ibu dengan anak
secepatnya
e. Dukungan sosial.
f. Konsep diri
g. Sifat pribadi
h. Sikap terhadap membesarkan anak.
i.
Status
kesehatan ibu.
2. Faktor bayi
a. Temperamen
b. Kesehatan bayi
3. Faktor-faktor lainnya
a. Latar belakang etnik
b. Status perkawinan
c. Status ekonomi
Dari faktor sosial support, Mercer mengidentifikasikan
adanya 4 faktor pendukung :
a. Emotional support, yaitu perasaan
mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti.
b. Informational support, yaitu memberikan
informasi yang sesuai dengan kebutuhan ibu sehingga dapat membantu ibu untuk
menolong dirinya sendiri.
c. Physical support, misalnya dengan
membantu merawat bayi dan memberikan tambahan dana.
d. Appraisal support, ini memungkinkan
individu mampu mengevaluasi dirinya sendiri dalam pencapaian peran ibu.
Mercer menegaskan bahwa umur, tingkat pendidikan, ras,
status perkawinan, status ekonomi dan konsep diri adalah faktor - faktor yang
sangat berpengaruh dalam pencapaian peran.
Peran bidan diharapkan oleh Mercer dalam teorinya adalah
membantu wanita dalam melaksanakan tugas dalam adaptasi peran dan
mengidentifikasi faktor - faktor yang mempengaruhi pencapaian peran ini dan
kotribusi dari stress antepartum.
Stres dari
pengalaman hidup yang buruk dan kehamilan berisiko membawa akibat negatif
secara langsung pada penghargaan diri dan status kesehatannya : penghargaan
diri, status kesehatan, dan dukungan sosial membawa akibat positif secara
langsung pada penguasaan perasaan dan kemampuan orangtua ; penguasaan membawa
perasaan akibat negatif secara langsung pada kegelisahan dan kehilangan dimana
akhirnya juga membawa akibat negatif secara langsung pada fungsi keluarga.
3.
Teori
Ernestine Wiedenbach
a. The
Agents : Midwife
Fillosofi yang di kemukakan adalah
tentang kebutuhan ibu dan bayi yang segera, untuk mengembangkan kebutuhan yang
lebih luas yaitu kebutuhan untuk persiapan menjadi orang tua.
b. The
Recipient
Meliputi : wanita, keluarga dan
masyarakat. Recipient menurut Wiedenbach adalah individu yang mampu menentukan
kebutuhannya akan bantuan.
c. The
Goal / Purpose
Disesuaikan denagn kebutuhan masing
- masing individu dengan memperhatikan tingkah laku fisik, emosional, atau
fisiologikal.
d. The
Means
Metode untuk mencapai tujuan asuhan
kebidanan ada 4 tahapan :
1. Identifikasi
kebutuhan klien (Identification), memerlukan keterampilan dan ide
2. Memberikan
dukungan dalam mencapai pertolongan yang dibutuhkan (Ministrasion)
3. Memberikan
bantuan sesuai dengan kebutuhan (validation)
4. Mengkoordinasi
tenaga yang ada untuk memberikan bantuan (Coordination)
5. The
Framework meliputi lingkungan social, Organisasi & profesi.
4.
Teori
Ela Joy Lerliman dan Morten
Teori ini
mengharapkan bidan dapat melihat semua aspek dalam memberikan asuhan dalam ibu
hamil dan bersalin. Lerhman dan morten mengemukakan 8 konsep penting dalam
pelayanan antenatal :
a. Asuhan
Kebidanan yang berkesinambungan
b. Keluarga
sebagai pusat asuhan kebidanan.
c. Pendidikan
dan konseling merupakan sebagian dari asuhan
d. Tidak
ada intervensi dalam asuhan kebidanan.
e. Keterlibatan
dalam asuhan kebidanan
f. Advokasi
dari pelayanan kebidanan.
Morten ( 1991 ) mendambakan 3 macam dalam
teori Lerhman "
a. Tehknik
teurapetik
Proses komunikasi sangat bermantaat
dlm proses perkembangan & penyembuhan, misalnya :
1. Mendengar
aktif
2. Mengkaji
3. Klarifikasi
4. Humor
5. Sikap
yang tidak menuduh
6. Pengakuan.
7. Fasilitasi
8. Pemberian
izin
b. Pemberdayaan
(Enpowerment)
Suatu proses memberi kekuasaan dan
kekuatan. Bidan melalui penampilan dan pendekatannya akan meningkatkan
kemampuan pasien dalam mengkoreksi, memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.
c. Hubungan
dengan sesama ( Lateral Relationship )
Menjalin hubungan yang baik dengan
klien, bersikap terbuka, sejalan dengan klien, sehingga bidan dan kliennya
nampak akrab. Misalnya sikap empati atau berbagi pengalaman
5.
Teori
Jean Ball
Menurut Jean
Ball respon terhadap perubahan setelah melahirkan akan mempengaruhi personality
seseorang dan dengan dukungan mereka akan mendapatkan sistem keluarga dan
sosial. Persiapan yang sudah dilakukan bidan pada masa postnatal akan mempengaruhi
respon emotional wanita terhadap perubahan akibat proses kelahiran tersebut.
Kesejahteraan wanita setelah melahirkan sangat tergantung pada personality atau
kepribadian, sistem dukungan pribadi dan dukungan dari pelayanan maternitas.
Ball
mengemukakan teori kursi goyang yang di bentuk 3 elemen
1. Pelayanan
maternitas.
2. Pandangan
masyarakat terhadap keluarga.
3. Sisi
penyangga atau support terhadap kepribadian vvanita
6.
Teori
Dorothea E. Orem
a. Teori
Self-care
Teori ini mengemukakan bahwa setiap
orang mempunyai kebutuhan untuk merawat dirinya sendiri dan berhak untuk
memenuhi kebutuhannya sendiri kecuali jika tidak memungkinkan,orang yang biasa
memenuhi kebutuhan self care sendiri di sebut Self Care
Agent.sedangkan bagi bayi,anak,orang yang sakit berat atau tidak sadar,keluarga
atau orang tua merupakan Dependent Care Agent.
Kebutuhan Self Care dibagi 3
kategori;
1. Universal
Self Care
Yaitukebutuhan dasar manusia
meliputi kebutuhan udara,air,makanan,eliminasi,keseimbangan aktifitas dan
istirahat.
2. Development
Self Care
Yaitu kebutuhan yang timbul menurut
tahap perkembangan individu dan lingkungan dimana individu tersebut berada,
sehingga kebutuhan ini di hubungkan dengan siklus kehidupan manusia.
3. Health
Deviation Self Care
Kebutuhan yang ada jika seseorang
kesehatannya terganggu yang mengakibatkan perubahan perilaku self care.
b. Teori
Self-care Defisit
Bila individu mampu untuk memenuhi
tuntutan self care maka kebutuhan untuk merawat diri sendiri akan terpenuhi,
tetapi bila tuntutan lebih besar dari kemampuan maka akan terjadi ketidak
seimbangan yang disebut self care defisit.Tujuan untuk memenuhi kebutuhan self
care dapat dicapai dengan :
1. Menurunkan
kebutuhan self care ke tahap dimana pasien dapat memenuhinya.
2. Meningkatkan
kemampuan pasien untuk dapat memenuhi self care.
3. Mengijinkan
keluarga atau orang lain untuk memberikan dependent care bila self care tidak
memungkinkan.
4. Jika
hal tersebut tidak dapat dilaksanakan maka bidan yang akan melaksanakannya
bantuan yang dapat diberikan adalah berupa: berperan atau melakukan, mengajak,
membimbing, mendukung dan menciptakan lingkungan yang menunjang tumbuh kembang.
Untuk dapat memberikan maka bidan
harus memperhatikan aspek penting yaitu:
1. Menjalin
hubungan baik dengan pasien dan keluarga sampai kelompok tersebut mampu melaksanakan
asuhan sendiri.
2. Menentukan
bantuan yang dibutuhkan pasien.
3. Memberikan
bantuan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
4. Merencanakan
bantuan langsung bersama pasien dan keluarga.
5. Mengintergrasikan
asuhan dengan kegiatan sehari hari pasien dan pelayanan kesehatan lainya
sehingga untuk memberikan bantuan kepada pasien diperlukan pengetahuan tentang
manusia, kebutuhan self care, self care defisit, dan menerapkan 5 teori
bantuan.
D.
Model
Kebidanan Di Beberapa Negara
1. United
Kingdom
a. Bidan
Inggris menuntut adanya pelayanan mandiri dan menolak medical modal karena
dianggap tidak cocok dengan praktek kebidanan
b. Mereka
lebih banyak menggunakan Orem Self Care Model
c. Keuntungan
bagi wanita adalah menernpatkan kebutuhan wanita sebagai prioritas utama,
wanita berhak memilih asuhan yang diinginkan dan rencana kelahiranya
d. Keuntungan
bagi bidan adalah memudahkan bidan dalam memberikan asuhan yang
berkesinambungan dan menerapkan women center care, memudahkan dalam melakukan
asuhan mandiri dan komprehensif pada ibu, bayi dan keluarga
2. Australia
a. Menggunakan
modal partnership kebidanan dimana wanita sebagai partner bidan dalam berbagai
pengalaman tentang proses melahirkan dan melahirkan adalah proses yang normal
dalam kebidanan.
b. Prinsip
- prinsip yang mendasari partnership dalam kebidanan adalah:
1) Mengetahui
dan mendukung kesatuan antara tubuh, pikiran, jiwa, lingkungan fisik dan social
budaya (suatu yang holistic)
2) Sebagian
besar wanita dapat melahirkan bayi tanpa intervensi.
3) Mendukung
proses alamiah dalam tubuh .
4) Pelayanan
kebidanan adalah seni dan ilmu, pendekatan pemecahan masalah di gunakan bila
diperlukan .
5) Pelayanan
kebidanan berpusat pada wanita.
6) Berhubungan
dengan proses pencapaian peran ibu.
7) Memberdayakan
wanita dalam pengambilan keputusan.
8) Pelayanan
kebidanan dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup praktek. Individu yang mengacu
pada wanita dan petugas kesehatan lain jika di butuhkan.
3. New
Zealand
a. Menggunakan
model patnership bidan dengan ibu. Adapun fillosofi yang mendasari:
1) Kehamilan
dan persalinan adalah proses kehidupan yang normal
2) Tugas
kebidanan secara profesional adalah pendamping ibu dalam kehamilan, persalinan
dan periode post natal normal.
3) Kebidanan
memberikan pelayanan kepada wanita secara berkesinambungan
4) Kebidanan
berpusat pada wanita
E.
Women
Center Care
1. Pengertian
Women Center Care
Women Center Care adalah asuhan
kesehatan yang berpusat pada wanita. Dalam kebidanan terpusat pada ibu (wanita)
adalah suatu konsep yang mencakup hal- hal yang lebih memfoluskan pada pada
kebutuhan, harapan, dan aspirasi masing- masing wanita dengan memperhatikan
lingkungan sosialnya dari pada kebutuhan institusi atau profesi terkait
(Hidayat Asri,Dkk,2009).
Women Centered Care adalah istilah yang
digunakan untuk filosofi asuhan maternitas yang memberi prioritas pada
keinginan dan kebutuhan pengguna, dan menekankan pentingnya informed choice,
kontinuitas perawatan, keterlibatan pengguna, efektivitas klinis, respon dan
aksesibilitas. Dalam hal ini bidan difokuskan memberikan dukungan pada wanita
dalam upaya memperoleh status yang sama di masyarakat untuk memilih dan
memutuskan perawatan kesehatan dirinya.
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan oleh suatu badan yaitu House of Commons Health Committee tahun 1992,
disimpulkan bahwa terdapat permintaan yang meluas pada kaum wanita untuk
memiliki pilihan yang lebih besar dalam menentukan jenis asuhan maternitas yang
mereka dapatkan dan bahwa struktur pelayanan maternitas saat ini membuat mereka
frustasi bukan memfasilitasi mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya
asuhan yang berorientasi pada wanita dimana mereka punya peran dalam menentukan
pilihan sehingga terpenuhi kebutuhannya dan timbul kepuasaan.Hal tersebut juga
menunjukkan bahwa Asuhan yang berorintasi pada wanita atau Women Centre Care
amat penting untuk kemajuan Praktik kebidanan.Dalam praktik kebidanan, “Women
Centered Care” adalah sebuah konsep yang menyiratkan hal berikut :
1. Perawatan
yang berfokus pada kebutuhan wanita yang unik, harapan dan aspirasi wanita
tersebut daripada kebutuhan lembaga-lembaga atau profesi yang terlibat.
2. Memperhatikan
hak-hak perempuan untuk menentukan nasib sendiri dalam hal pilihan, kontrol dan
kontinuitas perawatan dalam bidang kebidanan
3. Meliputi
kebutuhan janin, bayi, atau keluarga wanita itu, orang lain yang signifikan,seperti
yang diidentifikasi dan dipercaya oleh wanita tersebut.
4. Melibatkan
peran serta masyarakat, melalui semua tahap mulai dari kehamilan,persalinan,
dan setelah kelahiran bayi.
5. Melibatkan
kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya bila diperlukan.
6. ‘Holistik’ dalam hal menangani masalah sosial
wanita, emosional, fisik, psikologis, kebutuhan spritual dan budaya.
Terpusat pada ibu memiliki sifat
holistic (menyeluruh) dalam membahas kebutuhan dan ekspetasi, social,
emosional, fisik, psikologis, spiritual, dan kebudayaan ibu. Bentuk-bentuk
women Center Care di Indonesia merupakan progam untuk menurunkan angka kematian
ibu yang merujuk pada progam sedunia yang didukung oleh WHO yaitu:
1. Safe
Motherhood
2. The
mother Friendly Movement Tahun 1996 yang diterjemahkan sebagai Gerakan Sayang
Ibu (GSI)
3. Live
Saving Skill
4. Komunikasi
Interpersonal dan konseling
5. Asuhan
Persalinan Dasar (APD) yang kemudian berkembang menjadi AsuhanPersalinan Normal
(APN) Tahun 2000
6. Making
Pregnancy Safer (MPS) tahun 2000
7. IBI
mengeluarkan standar asuhan kebidanan dan usulan peningkatan pendidikan Kebidanan
dari D1, D3, D4, S2
Referensi
:
1.
AA.
Gde Muninjay, (1997), Manajemen Kesehatan, EGC Kedokteran, Jakarta
2.
Burbst,
A.August, dkk, Editor Sanur Ahmad, (2000), Pemberdayaan Wanita Dalam Bidang
Kesehatan, yayasan Essentia Medica, Yogyakarta
3.
Deokes
RI, (2003), Konsep Asuhan Kebidanan, Tridasi Printer, Jakarta
4.
Pengurus
Pusat Ikatan Bidan Indonesia, (2003), Manajemen Kebidanan Metode SOAP, Jakarta.
5.
Pengurus
Pusat IBI, (2003), 50 tahun IBI Menyongsong Masa Depan, Jakarta
6.
Varney,
Helen, (1997), Varneys Midwifery, Third Edition, UK : Jones & Barlett
Publishers Internasional.
7.
Wendy
Rose-Neil, (2001), Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan, Dian Dian Rakyat,
Jakarta
8.
Henderson,
Christine.2005. Buku Ajaran Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC
9.
Hidayat,
Asri. 2011. Buku Konsep Kebidanan ( Edisi Revisi). Yogyakarta: Nuha Medika
10. Prawiharjo, Sarwono. 2009. Ilmu
Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pusaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar